Indonesia: Mencintaimu dengan Sederhana

Segera terbit beberapa buku hasil Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, perjalanan keliling Indonesia bersepeda motor dua wartawan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus.

Terbit Februari 2011

INDONESIA: Mencintaimu dengan Sederhana

Cover Depan

Bagaimana dua wartawan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, melakukan perjalanan bersepeda motor keliling Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote? Mengapa pesisir dan pulau-pulau menjadi fokus perhatiannya? Buku ini juga berisi foto tentang pemandangan, budaya ekonomi-sosial, lingkungan dan kehidupan manusia di pesisir serta pulau-pulau terpencil Indonesia.

DVD

Buku ini dicetak dalam dua versi dan masing-masing dilengkapi dengan DVD video perjalanan berdurasi 30 menit:

Hardcover, artpaper/fullcolor, 27 x 25 cm, tebal 150 hlm Harga: Rp 250.000

Paperback, artpaper/fullcolor, 21 x 19 cm,tebal 150 hlm Harga: Rp 95.000

 

 

Terbit Juni 2011

Di Kolong Langit Khatulistiwa

Cover Depan

Renungan dan catatan pribadi Farid Gaban tentang politik, ekonomi, budaya, lingkungan Kepulauan Nusantara, negeri paradoks, negeri yang indah dan kaya namun pada saat yang sama miskin.

Paperback, 13 x 19 cm, 250 hlm – Harga: Rp 85.000

(Harga-harga belum termasuk ongkos kirim)

Pesan sekarang ke fgaban@gmail.com

UNTUK MEMBACA NUKILAN BUKU DI BAWAH (KLIK MORE)

Indonesia: Mencintaimu dengan Sederhana

Oleh Farid Gaban

Rute Petualangan

“Saya bukan anak yang tumbuh dan dekat dengan laut,” kata Ahmad Yunus. “Gambaran laut dalam benak saya selalu menakutkan. Dunia yang penuh mitos dan kegetiran.”

Seperti Yunus, saya juga bukan anak laut. Yunus lahir di kaki Gunung Tangkuban Prahu, Bandung, pada 1981. Saya lahir di Wonosobo, lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah, dua puluh tahun sebelum Yunus. Bayangan saya tentang laut juga penuh dengan cerita magis yang populer di Jawa, tentang Laut Selatan yang ganas dan tempat bersemayam tokoh misterius Nyai Roro Kidul. Atau kisah tragis perburuan ikan paus dalam novel “Moby Dick” karya Herman Meville.

Tak terbayangkan jika kemudian kami berdua, saya dan Yunus, bisa mengarungi lebih 10.000 kilometer perjalanan keliling kepulauan Indonesia, selama hampir setahun penuh (2009-2010), yang sebagian besar waktu di antaranya melintasi laut.

Kami bersepeda motor menyusuri pesisir pulau-pulau besar Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Kami menaikkan motor ke feri, kapal perintis atau perahu kayu nelayan mengunjungi 40 gugus kepulauan yang tersebar di empat penjuru, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.

Di Pedalaman Kalimantan

Terbukti laut, dan pulau-pulau terpencil, tidaklah menakutkan. Bahkan menyenangkan. Perjalanan kami adalah kombinasi antara petualangan di alam; kesenangan menikmati segala yang indah meski sederhana; perjalanan jurnalistik karena kami berdua wartawan; serta pembelajaran tentang hidup di laut dan pulau-pulau yang kami rasa tak mungkin diperoleh dari buku, perpustakaan atau bangku kuliah.

Di beberapa rute panjang kami naik feri yang bisa memuat mobil dan motor; atau naik kapal perintis, yakni kapal swasta yang disubsidi negara untuk melayani rute ke pulau-pulau terpencil dengan atau tanpa penumpang; atau naik kapal besar milik Pelni yang bisa mengangkut ratusan orang.

Tidak selalu menyenangkan mengingat layanan angkutan umum negeri kita termasuk primitif, tidak di darat tapi di laut juga. Kadang kapal terlalu penuh sehingga kami harus tidur berhari-hari di bawah tangga, atau di sekoci, atau berjejalan di geladak yang pengap dengan bau keringat, muntah dan toilet yang mampet. Salah satu perjalanan paling menyiksa adalah 10 hari pelayaran dari Bandaneira ke Merauke.

Martabat dan harga diri kami seperti dirampok jika naik kapal-kapal angkutan seperti itu. Namun, kami tidak sendirian dan mungkin justru itulah seninya. “Separoh kesenangan dalam perjalanan,” kata Ray Bradbury, penulis novel misteri dan fiksi-sains Amerika, “adalah menikmati indahnya tersesat.” Dan salah satu manifestasi tersesat adalah ketika diri kita lebur dalam ketiadaan. Perjalanan hanya bisa kita nikmati, dan barangkali lebih bermakna, jika kita mampu melenyapkan diri. Lebur. Hilang. Tidak menjadi siapa-siapa.

Di rute-rute pendek, kami menaikkan sepeda motor ke kapal dan perahu yang lebih kecil. Kami naik kapal kayu angkutan antar pulau, metromini di laut, mengarungi ombak yang lumayan ganas di Kepulauan Mentawai misalnya. Agak khawatir setiap kali kapal diangkat ombak dan dijatuhkan ke lembahnya dengan kedengaran bunyi “Krak!” dari lambungnya. Satu-satunya yang menghibur, kami tidak sendirian. Ada puluhan penumpang anak-anak dan perempuan di kapal itu.

Melintasi Selat Malaka yang sibuk kami naik kapal pengangkut sayur, beras dan buah-buahan, dalam perjalanan dari Dumai ke Batam. Kami tidur di atas tumpukan rotan dalam perjalanan Mentawai-Padang, atau di atas timbunan karung jagung dalam pelayaran di Teluk Tomini, Sulawesi, atau tidur sebelah-menyebelah dengan ikan hasil tangkapan di perairan Kepulauan Karimata dan di Kepulauan Talaud dalam perjalanan menuju Miangas.

Naik kapal-kapal kecil lebih menyenangkan karena kami bisa mengenal lebih dekat kehidupan pelaut dan nelayan, petualang-petualang sejati. Dan kami bersyukur, meski ini merupakan pelayaran maraton panjang pertama kali di laut, kami tak pernah mabuk laut atau muntah, sehingga selalu bisa menikmati perjalanan.

Jika laut tenang dan langit cerah kami bisa menyantap terbit dan tenggelamnya matahari dalam pemandangan yang paling mencengangkan. Langit seperti kanvas penuh warna. Sementara di siang yang terik, warna gradasi laut jernih, dari biru gelap ke tosca ke biru muda, tergantung kedalaman laut dan kedekatan dengan pulau, mengenyahkan rasa panas dan gerah keringat bercampur garam di kulit.

Jika langit mendung, atau bahkan sedikit berbadai, kami tetap bisa menemukan hiburan lain: menonton ikan terbang (Exocoetidae), yang seperti puluhan anak panah melesat ke berbagai arah dari lambung kapal yang kami tumpangi. Ikan-ikan kecil ini bisa terbang sejauh 200 meter. Kadang, jika beruntung, kami juga bisa menikmati tarian lumba-lumba di laut lepas, di bawah lengkung pelangi di cakrawala, ketika cahaya penuh warna berpendar akibat butiran air hujan.

Naik rakit

Bahkan malam di laut juga menyenangkan. Jika langit cerah, saya lebih suka naik ke atap kapal, menyelinap ke dalam kantong tidur yang hangat sambil menengadah menikmati kerlip bintang, galaksi dan meteor, sampai tertidur. Kerlip bintang jarang  bisa saya nikmati selama bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Dari nelayan, kami juga sedikit belajar membaca bintang di langit. Meski kini ada alat digital canggih seperti Global Positioning System (GPS), navigasi laut nelayan di kepulauan kita masih mengandalkan posisi bintang-bintang di langit sebagai petunjuk arah.

Tak hanya di permukaan air laut. Kami menemukan keasyikan menyaksikan keindahan bawah laut, baik dengan sekadar berenang di permukaan maupun menyelam. Indonesia adalah negeri terpenting dalam Kawasan Segitiga Terumbu Karang, The Coral Triangle. Inilah kawasan dengan kekayaan taman laut terindah, serta kekayaan hayati koral dan fauna laut paling beragam di dunia.

Sebelum berangkat berkeliling, saya mengambil kursus menyelam untuk mendapatkan sertifikat internasional, satu syarat untuk bisa menyewa peralatan selam, atau scuba, di berbagai pulau. Berbekal sertifikat, scuba sewaan dan
kamera bawah air, saya mengabadikan gambar dan video bawah laut di kawasan terumbu karang terindah: Pulau Weh (Aceh), Talabonerate, Wakatobi dan Togean (Sulawesi), Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Flores) dan tentu saja Raja Ampat (Papua).

Tak pernah bosan kami menikmati keanggunan taman-taman bawah laut itu, seraya berburu gambar penyu, ikan manta, kawanan ikan barakuda atau lanskap koral lunak maupun keras. Tiap tempat selalu menyediakan kejutan baik melalui warna maupun bentuk koralnya. Menyelam di kedalaman 20-30 meter, menyusuri dinding terjal tubir laut yang tak terlihat dasarnya, di Derawan (Kalimantan Timur) dan Kepulauan Banda (Maluku), bukan ketakutan yang saya rasakan. Melainkan kesenangan dan rasa syukur yang besar bisa menikmati karya agung alam Indonesia ini.

Beberapa pulau terpencil, seperti Karimata atau Mentawai, tidak menyediakan tempat penyewaan alat selam. Tapi, gairah untuk menikmati karang begitu besar sehingga beberapa kali saya nekad menyelam dengan oksigen yang dipasok dari kompresor tambal ban—peralatan sederhana yang biasa dipakai nelayan-nelayan setempat untuk menyelam memasang bubu atau mencari teripang dan mutiara.

Menyelam dengan kompresor bisa sangat berisiko. Nelayan di beberapa pulau mengenal istilah “janda kompresor”, yakni perempuan-perempuan yang ditinggal mati lelakinya akibat menyelam dengan peralatan sederhana itu. Tapi, sebenarnya bukan kompresor itu sendiri yang berbahaya, melainkan teknik penyelaman yang tidak sesuai aturan.

Salah satu ancaman menyelam adalah mengalami dekompresi, yakni terciptanya gelembung gas di dalam tubuh. Gelembung akan membesar bersama berkurangnya tekanan air laut ketika kita naik ke permukaan, dan bisa mendesak pembuluh darah, sistem saraf atau otak. Orang bisa lumpuh, pingsan atau bahkan mati seketika. Risiko dekompresi bisa dikurangi dengan mematuhi aturan menyelam sesuai teori: tak boleh terlalu lama di air, tak boleh terlalu cepat naik ke permukaan, dan tak boleh terlalu sering menyelam, harus ada cukup waktu jeda antara satu penyelaman dengan penyelaman berikutnya.

Menyelam

Tapi, bagi banyak nelayan di pulau terpencil, menyelam seringkali merupakan satu-satunya jenis pekerjaan yang tersedia untuk cepat menghasilkan uang. Sementara itu, mereka terlalu miskin untuk memiliki peralatan memadai atau berlajar pengetahuan yang memadai tentang teknik penyelaman.

Kami banyak bertemu dengan anak-anak muda, dalam usia produktif, yang sudah lumpuh karena menyelam dengan kompresor. Di Sikakap, Kepulauan Mentawai, saya bertemu seorang remaja yang sudah menyelam lagi padahal baru dua pekan sebelumnya sang ayah meninggal di dalam air.

Tapi, itulah salah satu realitas hidup nelayan. Di pulau-pulau, kami bertemu dan bergaul dengan mereka, mewawancara dan merekam kehidupan mereka, yang jauh berbeda dari kehidupan petani pedalaman Jawa. Kami misalnya menginap di atas bagan di Pulau Kabung, lepas pantai Singkawang, Kalimantan Barat, dan melihat dari dekat bagaimana mereka mengolah ikan asin sepanjang malam untuk dikeringkan di terik siang. Kami juga ikut nelayan Kepulauan Karimata memasang bubu di karang dan mengumpulkannya kembali beberapa hari kemudian.

Hampir di semua tempat, kami menginap di rumah-rumah nelayan. Dalam kesederhanaan hidup mereka, para nelayan ini menyambut kami dengan baik, membantu kami, serta berbagi banyak cerita tentang tradisi dan kehidupan mereka. Ahmad Yunus, yang pandai memasak, kadang membantu tuan rumah menyiapkan makan malam, menambah keakraban tersendiri.

Sementara kami banyak berkunjung ke kampung-kampung nelayan atau petani, dan banyak mewawancara mereka, tak sekalipun kami bertemu, berkunjung atau mewawancara pejabat, baik gubernur maupun bupati. Pejabat tertinggi yang pernah kami temui adalah camat, yakni Camat Pulau Enggano, itupun karena kami secara kebetulan naik kapal yang sama.

Jurnalisme, bagi kami, punya kewajiban menyuarakan orang-orang yang tak bersuara atau mereka yang suaranya jarang didengar. Tapi, dalam media massa kita, berita cenderung secara keliru hanya didefinisikan sebagai suara pejabat atau politisi. Mereka sudah terlalu banyak disuarakan. Sementara, suara orang kebanyakan, petani atau nelayan, apalagi di pulau-pulau terpencil, jarang sekali terdengar.

Para nelayan di beberapa pulau senang mengantar kami dengan perahu motor kecil memamerkan tempat-tempat terindah pulau mereka yang jarang dikunjungi. Atau memamerkan ritual tradisi mereka yang diturunkan dari nenek-moyang.

Di Pulau Enggano, misalnya, pulau terdepan di Samudra Hindia, kami berkemah di hutan pinggir pantai, memancing ikan dari laut, membakarnya langsung dengan kayu pohon bakau, dan menyantapnya dengan piring alam dari daun hutan pantai.

Menulis di geladak kapal

Di Bangkurung, Kepulauan Banggai, Sulawesi, kami disambut dengan upacara tradisional. Di sini, setiap tamu harus membeli seekor ayam milik tuan rumah, dengan harga berapa saja, yang kemudian disembelih untuk disantap bersama. Di rumah adat, kami bersila makan ubi lokal dan sagu dengan kuah sop ikan kima yang disajikan dalam tempurung kelapa dan minum air putih dari cawan batang bambu. Malam harinya kami disuguhi tarian tradisional dalam irama musik kendang, gong dan perkusi tradisional yang penuh hentakan.

Di samping adat-istiadat, arsitektur tradisional juga menjadi sumber kekaguman kami, terutama ketika kami mengunjungi Kepulauan Nias, di Samudra Hindia. Kami berkunjung ke Kampung Hiliniwalo Mazingo tempat berdirinya bangunan kayu kuno, Omo Hada. Bangunan itu telah berumur hampir 300 tahun, tapi tetap berdiri tegak setelah Nias digempur gempa besar 7,9 Skala Richter pada 2005.

Menyimpang sedikit dari pesisir, kami juga sempat mengunjungi Sintang, di hulu Sungai Kapuas, Kalimantan, sungai terpanjang di Indonesia. Kami menginap di sebuah rumah betang, atau rumah panjang, rumah tradisional Suku Dayak Desa. Kami menyaksikan upacara mereka membuka ladang, mendengar seorang perempuan tua berbagi kisah cerita rakyat kepada generasi lebih muda, mengetahui rahasia mereka membuat kerajinan kain ikat, serta mendengar keluhan mereka tentang ancaman kepunahan tradisi dan ladang pertanian akibat desakan perluasan perkebunan sawit yang begitu agresif belakangan ini.

Tak hanya adat, tradisi dan arsitektur. Kami juga senang bisa mengunjungi sejumlah tempat bersejarah sepanjang perjalanan. Di ujung timur, kami sempat mengunjungi Digoel dan Tanah Tinggi, tempat sejumlah tokoh pergerakan nasional pernah dibuang dan dipenjarakan dalam kamp konsentrasi ganas yang dibatasi hutan lebat, sungai penuh buaya, dan nyamuk malaria yang mematikan.

Di barat, kami sempat singgah sebentar di Barus, sebuah kota pelabuhan di pantai Sumatra Utara. Nama ini pernah dikenal ke seluruh penjuru dunia karena ekspor kapur barusnya, dan menghasilkan sastrawan klasik Hamzah Fanzuri (Fanzur adalah bahasa Arab untuk kapur barus). Namun kini Barus tak lebih dari sebuah kota kecamatan kecil yang ekonominya sekarat.

Penjara Digoel

Di Bandaneira, Kepulauan Banda, kami menyimak sejarah lebih banyak lagi. Di samping pernah menjadi tempat pembuangan tokoh pergerakan seperti Sutan Sjahrir, Hatta dan Iwa Kusumasumantri, Banda dikenal kaya akan kebun pala, rempah-rempah yang menarik perhatian Inggris dan Belanda untuk berebut koloni. Sejarah kolonialisme berawal dari sini. Meski tak sempat mengunjungi Pulau Run, kami mendengar kisah menarik tentangnya: bagaimana Kolonial Inggris menukar pulau ini dengan Pulau Manhattan, New York, yang dulu dikuasai Belanda.

Inggris juga menukar Benteng Marlborough, di Bengkulu, dengan kota lain yang kini jauh lebih terkenal, Singapura, setelah banyak pasukannya tewas. Mereka mati bukan karena peluru, melainkan karena serangan nyamuk malaria.

Ancaman malaria memang salah satu yang ditakuti orang ketika mengunjungi pesisir dan pulau kecil di kawasan tropis sampai sekarang. Hampir semua pulau kecil negeri kita dikenal sebagai daerah endemi malaria. Tapi kami bersyukur, tak sekalipun kami berdua terjangkit penyakit ini. Bahkan, kami tidak pernah sakit sepanjang setahun perjalanan dari pulau ke pulau; kecuali flu karena kehujanan atau demam ringan karena infeksi luka setelah terpeleset naik sepeda motor.

***

Seperti di laut, petualangan darat bersepeda motor juga sama menyenangkannya. Kami masing-masing mengendarai satu sepeda motor. Kami tak seberuntung Ewan McGregor dan Charley Boorman, dua petualang yang bersepeda motor dari Skotlandia ke Afrika Selatan dalam perjalanan yang didokumentasikan BBC dengan tajuk “Long Way Down”. Mereka naik BMW Adventure, motor besar dengan kapasitas mesin 1200 cc.

Untuk menghemat biaya semurah mungkin, kami memilih sepeda motor sederhana, Honda Win 100 cc. Itupun kami beli bekas. Sepeda motor Yunus buatan 2005, sementara yang saya kendarai lima tahun lebih tua umurnya dari itu. Kami beli di Bandung, keduanya dimodifikasi menjadi trail untuk mengantisipasi medan yang mungkin kami hadapi.

Dengan kapasitas mesin hanya 100 cc, Honda Win kalah laju dari sepeda-sepeda motor bebek 125 cc yang banyak beredar di pasaran. Tapi, memang bukan kecepatan yang kami cari. Inilah jenis sepeda motor yang biasa dipakai para tukang pos pedesaan untuk mencapai alamat-alamat terpencil, dan terbukti cukup tangguh untuk perjalanan jauh kami. Kecuali gangguan busi dan ausnya gear atau ban bocor, kami jarang dipusingkan oleh sepeda motor ini sepanjang pejalanan.

Kemah di perjalanan

Semula kami berharap bisa mengumpulkan uang atau menemukan sponsor untuk membeli sepeda motor di Banda Aceh, setelah menempuh perjalanan 2.000 km dari Jakarta. Tapi, kami tak beruntung. Motor yang sama tetap kami pakai sampai kembali lagi ke Jakarta setahun kemudian.

Dengan motor sederhana itulah kami antara lain menyisir pantai barat Sumatra sepanjang Pegunungan Bukit Barisan; melintasi Pegunungan Leuser dari Banda Aceh ke Medan dan Dumai; serta menembus jalan darat Kalimantan yang jarang dilalui orang, dari Singkawang dan Pontianak di barat, menuju Ketapang, Palangkaraya dan Banjarmasin di selatan, lalu ke Balikpapan, Samarinda, Tanjung Redep, dan Nunukan di timur laut. Kami mungkin hanya dua dari sedikit orang yang pernah tuntas bersepeda motor melintasi Kalimantan, pulau terbesar kedua setelah Papua, dari pesisir barat ke pesisir timurnya.

Indonesia timur memiliki lebih banyak pulau kecil ketimbang daratan. Itu sebabnya kami memutuskan meninggalkan sepeda motor di Makassar, dan mengunjungi sebagian besar kawasan Sulawesi Timur dan Utara, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara dengan menggunakan kapal dan perahu.

Motor belakangan dikirim dengan kapal ke Maumere, Flores, yang kemudian kami pakai untuk mengarungi 2.000 km lain dalam perjalanan ke barat menuju Jakarta via Ende dan Labuhan Bajo (Flores), Bima (Sumbawa), Mataram (Lombok), Ubud (Bali), Banyuwangi, Sidoarjo, Madiun, Yogyakarta, dan Cirebon (Jawa). Perjalanan yang sama menyenangkannya.

Jika tangki bensin diisi penuh, yakni empat liter, kami bisa mengarungi jarak 100 km. Motor kami tidak dilengkapi dengan speedometer, petunjuk jarak maupun petunjuk isi tangki. Hanya dengan perasaan saja kami menakar isi tangki. Tapi, alhamdulillah, kami tak pernah kehabisan bensin di tengah jalan yang membuat kami harus mendorong motor. Kami bersyukur karena di tempat-tempat terpencil seperti pedalaman Kalimantan, jarak satu kampung (dan satu penjual bensin) dengan lainnya bisa puluhan kilometer.

Dalam sehari kami biasanya menempuh jarak sekitar 200 km atau paling jauh 300 km, dengan berhenti di setiap pemandangan atau obyek menarik untuk dipotret dan direkam video. Atau berhenti kapan saja untuk makan dan sekadar menikmati secangkir kopi di warung pinggir jalan.

Motor dinaikkan ke kapal

Motor kami tidak dilengkapi dengan lampu memadai pula. Kapan saja menjelang gelap, kami memutuskan menginap, kadang di surau kecil, kadang di emper kedai pinggir jalan, atau kami membuka tenda di kolong langit, seperti yang beberapa kali kami lakukan di pedalaman Kalimantan. Hanya jika sangat terpaksa, untuk menemukan tempat yang nyaman dan aman menginap misalnya, kami melanjutkan perjalanan dalam gelap. Kadang dibantu cahaya bulan atau kerlip bintang, atau kadang mengekor di belakang sepeda motor atau mobil yang searah dengan perjalanan kami. Jika ada.

Pada dasarnya, kami bisa tidur di mana saja, yang membuat biaya perjalanan kami juga jauh lebih hemat. Selain tenda dan kantong tidur, kami membawa pula peralatan masak jinjing untuk menyeduh kopi dan memasak mie instan.

Berbeda dengan McGregor dan Boorman yang ditemani tim logistik pembawa perbekalan dan peralatan, kami hanya berdua. Mengingat kondisi motor, kami harus seksama memilih barang yang kami bawa: seringkas dan sesedikit mungkin, namun pada saat yang sama memenuhi kebutuhan minimal kami, termasuk kebutuhan untuk bisa meliput dan menulis sepanjang perjalanan.

Untuk berenang dan menyelam di laut, kami membawa sepatu kaki katak dan perlengkapan masker snorkel. Tapi, yang terpenting, kami juga membawa laptop, kamera digital, kamera saku bawah air, persediaan lensa, tripod, serta video-kamera mini. Yunus membawa beban tambahan peralatan dapur dan kantung kecil berisi kunci-kunci servis motor.

Semula, masing-masing motor kami dilengkapi dengan boks fiberglass untuk menampung sebagian barang bawaan, yang selebihnya kami bawa dalam ransel punggung. Tapi, boks ini sudah rontok dalam perjalanan berat pertama menyusuri pantai barat Lampung-Bengkulu, ketika kami harus melintasi jalan tanah licin, menyeberangi sungai tanpa jembatan dan berjuang keras mengarungi jalan berbatu. Juga rontok bersama boks itu peralatan Global Positioning System (GPS) yang semula memungkinkan teman-teman kami di Jakarta melacak keberadaan kami via satelit.

Setelah boks tak terpakai, kami harus merampingkan lagi barang bawaan. Untuk menghemat ruang dan beban, kami membawa hanya dua-tiga pasang baju, celana dan pakaian dalam. Kami harus benar-benar hemat memakainya termasuk di daerah hujan, sehingga kadang tidur dengan pakaian basah. Di beberapa perhentian kami harus mencuci baju sendiri dan menunggunya sampai kering.

Tiket Kelas Ekonomi

Ketimbang membawa sepatu yang berat, saya memilih memakai sepatu sandal atau sandal jepit hampir di seluruh perjalanan. Memakai sandal memang kadang tidak nyaman, misalnya ketika saya harus berjalan kaki menyusuri jalanan berlumpur dalam perjalanan Merauke-Digoel, Papua, atau ketika menembus hutan basah yang banyak lintah di Tanah Tinggi, hulu Sungai Digoel. Tapi, memakai sandal membuat tubuh terasa lebih ringan.

Sepatu kaki katak terbukti punya manfaat lain ketimbang hanya untuk menyelam. Yunus memakainya untuk ganti spatbor roda depan yang rontok, mencegah lumpur jalanan menciprat ke wajahnya. Jaket dan celana dia pakai untuk mengganjal sadel motor yang belakangan makin aus.

Kami membelanjakan uang lebih banyak dan menyediakan ruang lebih banyak untuk peralatan elektronik, yang sebagian kami beli gres. Kami antara lain membeli laptop Apple Macbook Pro, untuk menulis dan mengolah foto yang kami jepret di lapangan. Juga kamera digital Canon 50D dengan lensa tambahan 300 mm, serta handycam Panasonic. Untuk mengabadikan pemandangan bawah laut kami membawa kamera Canon G-10 bekas. Itulah beberapa benda termahal yang menyertai perjalanan kami, yang belakangan terbukti terlalu mewah.

Nasib naas menimpa kami. Laptop dan kamera-kamera itu tercebur ke laut ketika perahu kami tumpah di Siberut, Kepulauan Mentawai, ketika kami bahkan baru saja mengawali perjalanan di Sumatra. Air garam membunuh mereka. Belakangan, kami mengganti peralatan itu dengan laptop dan kamera bekas.

Bahkan meski bekas, laptop dilengkapi dengan modem yang memungkinkan kami mengirim tulisan dan foto sepanjang perjalanan ke situs http://www.zamrud-khatulistiwa.or.id dan halaman facebook Ekspedisi Zamrud , yang menjadikan perjalanan kami bersifat interaktif dengan siapa saja teman-teman yang mengikutinya. Mungkin ini ekspedisi pertama dari jenisnya di Indonesia yang bersifat interaktif.

***

Kami menyebut perjalanan kami sebuah ekspedisi, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, dengan tujuan utama mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri kepulauan dan negeri bahari. Serta melaporkannya dalam bentuk buku dan video dokumenter.

Sama sederhananya dengan peralatan dan metode perjalanan kami, gagasan berkeliling Indonesia ini juga berawal dari pikiran sederhana. Sebagian dipicu oleh rasa bersalah.

Motor dipermak

Menjadi wartawan sekitar 25 tahun, saya telah meliput banyak tema internasional. Pada 1988, saya meliput pemilihan Presiden Amerika Serikat dan berkeliling negeri itu dari New York dan Washington DC sampai Los Angeles dan San Francisco, dari Boston, Chicago, Dallas, Orlando hingga New Orleans. Dua tahun kemudian berkeliling Jerman, tidur dari stasiun ke stasiun dari Munich, Dusseldoff, Bonn, Hamburg dan Berlin, untuk meliput implikasi politik setalah runtuhnya Tembok Berlin. Ketika pecah Perang Bosnia, pada 1992, saya salah satu dari sedikit wartawan Asia yang menembus blokade Sarajevo. Tapi, mengesampingkan pengalaman internasional itu, saya merasa hanya tahu sedikit tentang Indonesia, negeri besar di halaman rumah sendiri. Terlalu sedikit.

Itu sebabnya, saya senang ketika pada 2008 beberapa teman mengajak bergabung dalam sebuah rencana ekspedisi keliling Kepulauan Indonesia dengan naik kapal tradisional phinisi. Saya begitu bersemangat, tapi rencana itu terkatung-katung sampai kemudian secara bergurau saya mengatakan akan naik sepeda motor keliling Indonesia jika rencana itu gagal.

Rencana besar itu akhirnya benar-benar gagal karena kurang sponsor. Tapi, haruskah uang atau biaya menjadi kendala? Bagaimana kalau naik sepeda motor, lebih ringkas dan lebih murah? Bagaimana pula jika untuk menghemat biaya, kita membawa tenda dan kantong tidur, backpacking, dan menginap di rumah-rumah nelayan, berlayar bersama mereka?

Pada awalnya, ini seperti sebuah ide gila. Tapi, kenapa tidak? Sepeda motor bukan benda asing bagi saya. Hampir setiap hari di Jakarta saya naik sepeda motor yang murah dan anti-macet. Dan saya pikir, jika kita bisa menanggung kesulitan menyusuri jalanan Jakarta yang brutal, apa lagi yang kita takutkan di luar sana?

Hidup dan bertualang di alam juga bukan hal baru bagi saya. Lahir dan tumbuh di pedalaman Jawa, saya suka naik gunung ketika remaja. Bersama teman sebaya, saya senang membuat gubug jerami kapan saja musim panen tiba. Memancing dan mandi di sungai-sungai pegunungan yang jernih, menyusuri hutan pinus dan akasia, berburu dan menikmati buah liar di pematang sawah, adalah sebagian dari kenangan paling berkesan tentang masa kecil.

Apa yang harus kami takutkan untuk bisa menikmati kembali hidup di alam, di tempat-tempat terjauh, meninggalkan kehidupan kota yang riuh?

Menyeberang sungai

Kami suka film “Into The Wild” (2007) yang disutradari Sean Penn. Film ini diangkat dari kisah nyata Christopher McCandless, seorang mahasiswa Amerika yang pintar dan datang dari keluarga kaya, tapi memutuskan membuang semua benda miliknya, uang, mobil dan bahkan identitas pribadinya, lalu berkelana dan hidup menggelandang ke Alaska, tempat dia menemukan ajalnya. McCandless mencampakkan kehidupan modern yang dinilainya hipokrit untuk menemukan kedamaian dalam hidup primitif di alam.

Kesulitan hidup yang dihadapi McCandless dalam pengembaraannya tidaklah seberapa dibanding kesulitan yang belakangan kami saksikan dihadapi sehari-hari para nelayan kepulauan Indonesia, atau bahkan tidak sebanding dengan kehidupan sulit pedesaan waktu saya kecil. Tapi, McCandless adalah pahlawan untuk satu hal yang mudah dikatakan namun sulit dilakukan banyak orang:  yakni melepaskan ego “somebody” dan memilih lenyap melebur menjadi “nobody”.

Jika McCandless bisa melakukannya kenapa kita tidak, meski motif utama kita barangkali bukan membenci segaka bentuk kehidupan modern?

Inspirasi lain datang dari pengembaraan Ernesto Che Guevara, ikon pejuang Marxist yang masih harum namanya sampai sekarang, puluhan tahun setelah kematiannya. Melalui film “The Motorcycle Diaries”, kita bisa melihat Che Guevara, bersama Alberto Granado, mengarungi jarak 8.000 km bersepeda motor melintasi Amerika Latin. Perjalanan itu memperkenalkan dia kepada kemiskinan dan penderitaan rakyat banyak yang belakangan mentransformasikan dirinya; dari seorang mahasiswa anak-mami menjadi pejuang revolusioner yang mengguncang dunia.

Kami berdua bukan Che Guevara. Saya setidaknya sudah terlalu tua untuk berkeinginan menjadi revolusioner. Sementara tentang kemiskinan di Indonesia, kami sudah melihatnya di banyak tempat bahkan di Jawa, atau membacanya dari banyak studi-studi literatur tentang masalah pembangunan. Tapi, “The Motorcycle Diaries” memperkuat keyakinan kami tentang metode perjalanan yang bisa dilakukan, justru karena kesederhanannya: bersepeda motor, backpacking, mengenal banyak orang dan problem-problem nyata mereka.

Kami juga menyukai bacaan tentang petualang-petualang dunia, seperti Marcopolo. Atau Ibn Battuta, pengelana Muslim Abad ke-14. Battuta mengembara selama 30 tahun mengunjungi negeri-negeri jauh di Afrika, hingga India di Asia Selatan dan China di Asia Timur. Dia menulis buku “Ar- Rihla” (atau Perjalanan) yang tak akan pernah bosan kita baca.

Lebur bersama penumpang

Tapi, inspirasi terbesar dan terkuat untuk Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa datang dari dua buku yang terakhir kami baca: “Mengejar Pelangi Di Balik Gelombang” karya Fazham Fadlil dan “The Malay Archipelago” karya Alfred Russel Wallace.
Seperti McCandless dalam “Into The Wild”, Fazham Fadlil mencampakkan kehidupan nyaman 20 tahun di New York, untuk kembali ke kampung halamannya, di Kepulauan Riau, menggunakan kapal layar kecil melintasi Samudra Pasifik. Sendirian saja!

Jika kita ingin meyakinkan diri bahwa “nenek-moyang kita bangsa pelaut”, Fadlil mungkin satu dari sedikit saja bukti dan pewaris sah dari ungkapan itu yang masih hidup kini. Pengetahuan dia tentang kapal, navigasi laut, keberanian dan fisolofinya tentang laut memperkuat motivasi kami, anak-anak gunung, untuk menggali pengetahuan lebih banyak tentang laut Kepulauan Nusantara.

“Kepulauan Nusantara” adalah judul buku terjemahan karya Alfred Wallace (1823-1913), seorang pengamat alam asal Inggris. Judul asli buku itu “The Malay Archipelago”, terbit pertama kali 140 tahun lalu, dan terus diterbitkan hingga sekarang, menjadikannya salah satu buku klasik terpenting. Buku itu merupakan buah perjalanan Wallace selama delapan tahun mengunjungi pulau-pulau Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan (Borneo), Sulawesi, Maluku dan Papua. Tak berlebihan menyebut buku ini buku terpenting tentang sejarah alam dan manusia Nusantara yang paling lengkap sampai sekarang.

Dikenal sebagai bio-geografer, Wallace mengumpulkan dan mengawetkan contoh flora-fauna dari pulau-pulau yang ia kunjungi. Dari situ Wallace antara lain menyimpulkan adanya perbedaan nyata ciri-ciri fauna dan manusia di barat dan timur Indonesia, yang dipisahkan oleh sebuah garis imajiner. Garis itu kita kenal sebagai Garis Wallacea sekarang, antara Kalimantan dan Sulawesi, antara Bali dan Lombok.

Satu risalah Wallace ditulis dari Ternate, Maluku, pada 1858, yang belakangan dikenal sebagai “Surat dari Ternate”. Di situ dia menyebut tentang “seleksi alam dalam proses evolusi” bahkan sebelum Charles Darwin. Banyak orang percaya, Wallace lah, bukan Darwin, yang lebih berhak menyandang gelar Bapak Teori Evolusi.

Wallace tak hanya menulis tentang tumbuhan dan hewan. Dia juga membahas adat istiadat serta dinamika politik-ekonomi Nusantara di bawah kolonialisme Belanda Abad ke-16.

Membaca karya Wallace membuat kita menyadari, atau mengingat kembali, tentang kekayaan dan keragaman tak hanya flora-fauna tapi juga adat, suku dan manusia Nusantara. Itulah kesadaran yang menjadi landasan penting bagi kehidupan bangsa kita sekarang dan di masa mendatang.

Keragaman yang ditekankan oleh Wallace memiliki implikasi tak hanya pada bagaimana seharusnya kita melestarikan alam Indonesia, yang sekarang sebagian telah rusak, tapi juga pada bagaimana kita mengelola negeri yang sekarang sedang mengalami krisis ini secara sosial, ekonomi dan politik.

Kami tak punya daya tahan, waktu dan pretensi ilmiah sebanyak Wallace. Tapi, bayangan untuk bisa menelusuri atau napak-tilas sebagian tempat-tempat yang pernah dia kunjungi merupakan satu kehormatan bagi kami dan penguat motivasi untuk melakukan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa.

Perasaan iri akan kefasihan Wallace dalam reportasenya tentang alam-manusia Nusantara, serta simpati kami pada rasa frustrasi Christopher McCandless akan modernitas semu, kepekaan sosial Che Guevara, dan kegilaan Fazham Fadlil menggumpal menjadi satu motivasi besar bagi kami untuk berangkat, melupakan sejenak ketakutan-ketakuan yang mungkin akan kami hadapi di perjalanan.

Dan, begitulah. Kami pun berangkat!

Perjalanan kami tak sebanding dengan mereka. Tapi, setidaknya bagi kami, inilah salah satu pengalaman paling bermakna sepanjang hidup. Inilah ketika dua kehidupan, yang terpaut jarak 20 tahun, berbagi pengalaman bersama, aspirasi dan impian sama, setidaknya untuk sementara.

Berjalan bersama selama 10 bulan, dua orang bisa banyak bertukar renungan, baik yang serius tentang eksistensi manusia di alam, keindonesiaan, politik dan ekonomi, maupun hal-hal sepele seperti berbagi kekonyolan dan bertukar apresiasi sederhana tentang ikan yang disantap maupun kopi yang diteguk sepanjang perjalanan.

Begitu juga dengan kami. Bahwa kami, pada saat yang sama mungkin sedikit advonturir, kami sebenarnya hanya mengalami apa yang jarang orang lain alami. Catatan perjalanan kami tak lebih dari gumam dan renungan acak yang sering orang tulis dalam catatan harian mereka.***

Advertisements

14 thoughts on “Indonesia: Mencintaimu dengan Sederhana

  1. Pingback: Menjadi Bodoh & Belajar | The Noock

  2. Saya sangat bangga mas Farid akhirnya dapat menerbitkan buku hasil perjalanan yang cukup panjang dan menarik. Saya berharap ini adalah buku manifesto tentang Indonesia, yang menulisnya adalah orang Indonesia sendiri…..Berkarya terus mas, kami selalu mendukungmu

  3. kabari ya, kalau udah terbit, nanti aku bantu jualan lewat situs kedaipetualang.com (sementara dibangun), thanks,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s