Koperasi: Dinosaurus yang Menuju Punah?

Pasar terapung Banjarmasin, Kalimantan Tengah

Pasar terapung Banjarmasin, Kalimantan Tengah

Hari ini (12 Juli) kita memperingati Hari Koperasi.

Menurut Kementrian Koperasi, Indonesia kini memiliki sekitar 170.000 koperasi — jumlah yang sangat besar. Namun, nampaknya ada yang salah. Meski jumlahnya sangat besar, peran koperasi dalam perekonomian Indonesia tidak nampak signifikan, bahkan cenderung makin tersisih.

Koperasi pertanian dan perikanan, yang kuat di negeri lain, justru merosot perannya dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan.

Tak hanya itu. Makin hari makin orang memandang sinis gerakan koperasi. Sebagian orang mengatakan, koperasi adalah jenis usaha yang mirip dinosaurus tua yang menuju punah.

Untuk Indonesia, persepsi seperti itu mungkin benar. Namun, di tingkat global, koperasi memiliki peran ekonomi-sosial yang sangat penting. Termasuk di negeri-negeri yang kita kenal sebagai “negeri kapitalis”.

Aliansi Koperasi Internasional (ICA) yang berdiri sejak 1895, belum lama ini mengeluarkan daftar The Global 300 Co-Ops, atau 300 koperasi dengan volume bisnis terbesar di dunia.

Daftar itu memperlihatkan besarnya peran koperasi dalam perekonomian global sekarang.

The Global 300 menangguk pendapatan US$ 1 Trilyun pada 2004. Jika mereka dianggap satu negara, The Global 300 adalah negara dengan GDP nomor 10 terbesar di dunia, satu peringkat di bawah Kanada.

Hampir separo koperasi terbesar di dunia ini justru ada di empat “negeri kapitalis”: Amerika Serikat (62 koperasi); Prancis (45), Jerman (33) dan Italia (28).

Koperasi terbesar di AS adalah Columbus (koperasi asuransi); diikuti CHS Inc (federasi koperasi pertanian) dan Wakefern Foods (koperasi eceran pangan).

Di Amerika Serikat ada 29.000 koperasi dengan keanggotaan 350 juta orang. Sebagian besar dari 2 juta petani AS adalah anggota 3.000 koperasi pertanian.

Lebih dari 7.500 koperasi simpan pinjam AS memberikan jasa pada 91 juta konsumen. Lebih dari 900 koperasi listrik pedesaan melayani 42 juta (42% pasokan listrik nasional, dengan cakupan layanan 75% wilayah negeri).

Sekitar 50.000 keluarga memperoleh manfaat dari koperasi penitipan anak (day care center). Sekitar 1,2 juta warga pedesaan AS dilayani oleh 260 koperasi telpon. Dan 1,2 juta keluarga Amerika mendiami rumah yang dimiliki atau dioperasikan oleh koperasi perumahan.

Koperasi juga memiliki peran penting di “negeri kapitalis” lain dan dalam banyak sektor usaha.

Koperasi pengolah dan pemasar beras terbesar di dunia ada dalam daftar The Global 300. Masuk pula dalam daftar itu: koperasi dengan pegawai terbanyak di dunia (Swiss); bank terbesar (Prancis); dan pengolah pangan terbesar (India).

Jepang memiliki koperasi nomor 1 dan 2 dalam daftar The Global 300. Zen-Noh, sebuah federasi koperasi pertanian dan pangan, adalah koperasi terbesar di dunia. Zenkyoren, koperasi asuransi, adalah koperasi terbesar nomor dua di dunia.

Korea Selatan menempatkan dua koperasi dalam daftar The Global 300, satu di antaranya NACF (National Agricultural Cooperative Federation) yang menduduki peringkat 4.

India menempatkan dua koperasi, koperasi pupuk dan kopersi susu, dalam daftar tadi. Singapura, negeri kecil tetangga kita, menempatkan dua koperasi: kopersi asuransi dan koperasi eceran.

Karena koperasi secara umum mengedepankan manfaat buat anggota, ketimbang sekadar profit untuk investor, mereka cenderung bertahan lama.

Sekitar separo 300 koperasi dalam daftar The Global 300 berdiri sebelum 1940, sekitar 13% berdiri pada 1900-an, dan sekitar 10% telah berumur 100 tahun lebih.

Lebih dari sepertiga koperasi dalam The Global 300 terlibat dalam pertanian. Hampir setiap negara yang terwakili memiliki setidaknya satu koperasi pertanian dalam The Global 300.

Seperempat koperasi dalam The Global 300 merupakan koperasi keuangan; sekitar 30% di antaranya adalah koperasi eceran dan grosir.

Melihat data itu, koperasi bukanlah dinosaurus tua yang menjelang punah.

ICA juga membuat daftar koperasi di negeri-negeri berkembang: Developing 300 Project, dengan kriteria volume bisnis lebih kecil dari The Global 3000. Saludcoop, koperasi kesehatan Colombia, koperasi terbesar dalam Developing 300.

Lima negara Asia — Malaysia, Filipina, Thailand, Srilanka dan Vietnam — masing-masing menempatkan lima koperasi dalam daftar itu. Empat negeri Afrika (Ethopia, Kenya, Tanzania dan Uganda) dan tiga negeri Amerika Latin (Colombia, Kosta Rika dan Paraguai) juga menempatkan 5 koperasi dalam daftar Developing 300.

Tak satupun dari Indonesia.

Tidak keliru jika Bung Hatta, yang belajar koperasi dari Skandinavia, menyebut koperasi bisa menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Namun memiliki prasyarat.

Koperasi, bagi Bung Hatta, bukan cuma lembaga ekonomi, apalagi bisnis. Melainkan juga gerakan sosial (tempat orang saling menolong dan belajar) serta gerakan politik (tempat orang belajar demokrasi).

Tapi, di Indonesia, nampaknya perlu ada reformasi radikal atas gerakan koperasi agar koperasi memiliki peran ekonomi, sosial dan politik tersebut.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s