Di Ambang Krisis Ekonomi?

Peahu nelayan Rajuni, Kepulauan Takabonerate, Sulawesi Selatan.

Perahu nelayan Rajuni, Kepulauan Takabonerate, Sulawesi Selatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintahan Yudhoyono mencekoki kita dengan gambaran ekonomi mengkilap, indikator makro yang ajaib, khususnya pertumbuhan ekonomi. Pemerintah, katanya, juga sukses berkelit dari Krisis 2008. Tapi, hari-hari ini kita seperti tiba-tiba disuguhi berita buruk: turunnya nilai rupiah dan anjloknya indeks bursa saham, sebuah pintu menuju krisis moneter baru.

Apa yang salah secara mendasar sebenarnya? Adakah peluang untuk memperbaiki?

Pemerintahan Yudhoyono sedang menyiapkan beberapa “skenario penyelamatan” dan mengatakan optimistis bisa keluar dari kemelut seperti 2008.

Mudah-mudahan tidak memburuk. Tapi jika itu terjadi semoga kali ini membawa renungan yang lebih mendalam–peluang yang sudah beberapa kali dihadapkan kepada kita namun tidak menjadi pelajaran.

Artinya, apapun “skenario penyelamatan” yang dibuat semoga kali ini bukan skenario superfisial seperti bailout (BLBI/obiligasi recap/Century). Atau sekadar stimulus “memperbaiki iklim investasi”. Atau skenario karitatif seperti penciptaan utang publik baru (obligasi maupun utang langsung ke World Bank, ADB dan IMF) yang memperlemah kedaulatan negeri kita dalam merumuskan kebijakan publik, termasuk kebijakan ekonomi.

Skenario penyelamatan sesungguhnya adalah perubahan arah pembangunan ekonomi yang lebih fundamental dan ideologis, dimulai dengan mempertanyakan kembali basis-basis asumsinya.

Pemerintahan Yudhoyono terbuai dengan indikator pertumbuhan. Dan berlawanan dengan retorikanya, pertumbuhan itu bukanlah pertumbuhan berkualitas.

Krisis rupiah dan bursa saham sekarang dipicu oleh defisit neraca perdagangan: kita mengimpor lebih banyak nilainya dari mengekspor. Setelah surplus US$ 26 miliar pada 2011, neraca perdagangan Indonesia berubah defisit tahun lalu, pertama kalinya sejak awal Orde Baru.

Surplus ekspor kita beberapa tahun terakhir ditopang oleh penjualan batubara, gas dan sawit yang membuat pertumbuhan ekonomi kita nampak mencorong. Ekonomi kita ditarik oleh pertumbuhan ekonomi Cina dan India. Tapi, ketika kebutuhan akan energi dan bahan mentah  melemah di Cina dan India, segera ketahuan betapa rapuhnya kita.

Ekspor manufaktur kita sangat lemah, apalagi manufaktur teknologi tinggi yang nyaris nol, yang menunjukkan gagalnya pembangunan industri. Jika pernah ke Pasar Glodok, segera kita tahu bahkan sebagian besar barang-barang sederhana kita impor dari China atau negeri Asia lain.

Di sektor ekonomi baru seperti IT kita kalah jauh dari India; di sektor jasa seperti pariwisata kita di bawah bayang-bayang Malaysia dan Thailand.

Walhasil, sementara kita memaksakan diri untuk nampak menjadi modern dalam manufaktur dan jasa keuangan (sebagian besar hanya fatamorgana belaka baik dalam nilai maupun penyerapan tenaga kerjanya), sektor yang semestinya menjadi tumpuan harapan kita, pertanian dan perikanan, justru terabaikan dan kian terpuruk. Impor pangan kita makin besar dari hari ke hari di tengah naiknya harga pangan dunia.

Impor besar kita lainnya adalah energi, khususnya minyak (BBM). Ketergantungan besar kita pada minyak impor dipacu terutama oleh gagalnya konversi energi (menuju gas), tiadanya sistem transportasi publik yang baik dan korupsi sistemik yang melibatkan mafia migas. Naiknya harga BBM tidak akan mengurangi tingkat konsumsi maupun nilai impornya.

Di saat krisis seperti ini, kita mungkin baru sadar apa makna dari ketahanan energi dan ketahanan pangan (fondasi kepentingan nasional), yang sering diabaikan oleh para ekonom neoliberal di tengah arus besar globalisasi.

Pertumbuhan ekonomi semu yang ditopang oleh penjualan aset negara (gas, batubara, dan sawit yang mengorbankan kelestarian hutan), bukan hanya tidak sustainable, tapi juga tidak inklusif.

Pertumbuhan ekonomi cenderung hanya dinikmati 20% penduduk. Sekitar 120 juta warga masih hidup dengan belanja kurang dari US$ 2 setiap hari.

Ketimpangan ekonomi membesar, resep untuk keresahan sosial. Rasio Gini (ukuran ketimpangan) pada awal 2013 menembus angka 0,4 untuk pertama kalinya dalam sejarah negeri ini, menjadi 0,41.

Tak hanya miskin. Sebagian besar warga Indonesia hidup di tengah buruknya infrastruktur dan layanan publik yang terburuk di Asia. (Air minum, sanitasi, kesehatan, jaminan keamanan, kerentanan terhadap bencana).

Jika ukurannya Human Development Index (mutu manusia yang lebih utuh), Indonesia masih setara dengan banyak negeri Afrika yang sering kita ejek. Peringkat Indonesia ada di bawah Bostwana, Palestina, Mongolia, Suriname, Tonga atau bahkan Srilanka.

Salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu manusia adalah kesehatan. Variabel kesehatan dominan dalam menyebabkan kemiskinan. Sialnya, anggaran publik Indonesia untuk kesehatan salah satu yang paling kecil di dunia.

Pada 2011, anggaran kesehatan Indonesia hanya 1,3%, jauh di bawah standar WHO (5% dari GDP). Anggaran kesehatan di Indonesia lebih rendah dari Laos (1,5%), Kamboja (2,1), Nigeria (1,9%), Timor Leste (5,1%), dan Colombia (5,5%).

Kesimpulannya: pertumbuhan ekonomi yang digembar-gemborkan Pemerintahan Yudhoyono tidak sustainable dan tidak inklusif.

Ada faktor penting yang sering dituding sebagai kambing hitam: korupsi dan politik. Meski peran lembaga seperti KPK sangat penting, masih terlalu sedikit perdebatan keras untuk menemukan solusi problem korupsi sistemik (reformasi birokrasi serta kolusi antara partai politik dan bisnis, money politics sebenarnya).

Tapi, Indonesia belum terlambat untuk memperbaiki dirinya.

Reformasi politik yang lebih fundamental diperlukan. Namun, pada saat yang sama juga reorientasi kebijakan ekonomi.

Industrialisasi ke arah manufaktur memerlukan waktu lebih panjang dan ada prasyarat yang tak bisa diabaikan: mutu sumber daya manusia (pendidikan dan kesehatan).

Dalam konteks itu, menekankan pemerataan ekonomi dan perbaikan kualitas layanan publik nampaknya lebih penting ketimbang pertumbuhan ekonomi, apalagi pertumbuhan semu.

Mengingat pertumbuhan ekonomi sekarang pun lebih banyak didorong oleh konsumsi domestik, tidakkah lebih strategis memperkuat perdagangan antar pulau, yang artinya antara lain memperbaiki infrastruktur transportasi laut/udara?

Di sektor energi, menciptakan sistem transportasi publik menjadi keharusan untuk mengurangi pemborosan, pada saat yang sama mengalihkan konsumsi ke energi yang kita hasilkan sendiri (gas, batubara, dan energi terbarukan berbasis air dan matahari).

Lupakan sejenak membangun sektor manufaktur (yang cuma fatamorgana) dan memfokuskan diri sungguh-sungguh/fundamental untuk membangun sektor pertanian-kehutanan-kelautan.

Tak perlu malu untuk “menjadi petani/negeri pertanian”. Bukan hanya demi memperkuat ketahanan pangan tapi juga menopang pengembangan industri (yang tak terlalu canggih-canggih amat): pengolahan pertanian, kehutanan dan kelautan. Bahkan menjadi fondasi lebih kuat ke arah manufaktur.

Yang tak kalah penting adalah menimbang kembali orientasi pembangunan yang terpaku pada ukuran ekonomi, tapi melupakan ukuran-ukuran sosial dan kelestarian alam. Mungkin perlu merenungkan kembali petuah E. F. Schumacher dalam “Small Is Beautiful: A Study of Economics As If People Mattered”, yakni orientasi pembangunan yang lebih sustainable karena lebih manusiawi dan ramah lingkungan.

Intinya: mundur sejenak untuk membangun fondasi ekonomi lebih kuat.

“Skenario penyelamatan” yang fundamental ini nampak sederhana, dan ada sejumlah simplifikasi di dalamnya. Serta memerlukan sejumlah prasyarat. Tapi, prasyarat pertama, yang hampir tidak memerlukan biaya, adalah perubahan cara berpikir. Perubahan paradigma.

Advertisements

2 thoughts on “Di Ambang Krisis Ekonomi?

  1. Setuju, Bang. Pembangunan Indonesia banyak yang semu dan sentralistis. Kita lebih senang memperbanyak minimarket yang diimpor, ketimbang memajukan UKM yang riil milik rakyat. Bangga dengan kehadiran perbankan internasional, dan ogah menengok koperasi

  2. Pingback: Kedok Ekonomi Mengkilap- Suara Kaltara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s