Kisah Nelayan dan Profesor Bisnis

nelayan-enggano09 copyDi sebuah desa kecil tepi pantai Mexico, seorang pelancong Amerika mengamati nelayan setempat sedang menurunkan ikan hasil tangkapan dari perahunya. Dia memutuskan menyapa si nelayan yang usianya masih muda.

Pelancong Amerika bertanya: “Kenapa buru-buru pulang dari laut padahal hari masih siang?”

Jawab si nelayan: “Oh, Senor, hasil tangkapan saya sudah cukup untuk memberi makan keluarga hari ini dan menyisakan sedikit untuk bisa dijual.” Lalu menambahkan: “Kini saatnya makan siang bersama keluarga dan istirahat. Sore hari nanti saya bisa bermain dengan anak-anak. Pada malamnya saya bisa pergi ke kedai minum, menenggak tequila dan bermain gitar bersama teman-teman.”

Pelancong Amerika, seorang profesor bisnis, terhenyak oleh begitu rendahnya motivasi si nelayan untuk mencapai sukses.

Kata profesor: “Jika bekerja di laut sampai sore, kau akan mudah mendapatkan hasil tangkapan dua kali lipat. Kau bisa menjual ikan lebih banyak, menabung uangnya. Dan dalam enam-sembilan bulan kemudian, bisa membeli perahu lebih besar, mempekerjakan karyawan.”

Profesor melanjutkan: “Dalam dua tahun, kau bisa mendapatkan modal dari bank untuk membeli perahu lain yang lebih besar, memperjakan lebih banyak lagi karyawan. Jika kau mengikuti rencana bisnis seperti ini, dalam enam sampai tujuh tahun kau bisa memiliki sebuah armada besar perikanan.”

Si nelayan masih mendengar takzim.

“Bayangkan!” kata profesor. “Kau bisa mendirikan kantor pusat perusahaan di Mexico City, atau bahkan di Los Angeles, mengail modal lebih banyak lagi dari lantai bursa, yang bakal memberi kau, sebagai CEO, tak hanya gaji besar tapi juga opsi saham.”

Si nelayan manggut-manggut meski tidak paham sepenuhnya apa yang dikatakan profesor.

“Dalam beberapa tahun,” kata profesor, “tolong dengarkan saya! — kau bisa membeli porsi saham lebih besar lagi, yang akan menjadikan kau multimilyuner! Garansi! Dijamin!”

Si profesor begitu bersemangat. Katanya: “Saya tahu persis tentang ini. Saya profesor di sekolah bisnis terkenal Amerika.”

Si nelayan mendengar dengan takzim. Dan ketika profesor selesai memberikan kuliah, dia bertanya: “Tapi, Senor Profesor, apa yang bisa dilakukan ketika seseorang menghasilkan uang jutaan dolar?”

Kini si profesor mulai tersadar belum memikirkannya terlalu jauh. Dia terhenyak oleh pertanyaan menghunjam itu, tapi segera menemukannya jawabannya.

“Amigo!” kata profesor, “dengan uang banyak itu, kau bisa pensiun. Ya! Pensiun seumur hidup! Kau bisa membeli villa dengan pemandangan pantai yang indah seperti ini, membeli kapal pesiar untuk memancing di pagi hari. Kau bisa makan siang bersama istri setiap hari, dan setelah makan malam, bermain gitar di kedai bersama teman-teman, minum tequila. Yeah, dengan semua uang itu, kawanku, kau bisa pensiun tanpa pusing kepala.”

Terheran-heran dengan saran si profesor, nelayan Mexico menjawab: “Tapi, Senor Profesor, saya telah melakukannya sekarang ini!”


Diterjemahkan dari “Dealing with Uncertainties in Life” karya Ajahn Brahm aka Peter Betts, sarjana fisika murni Cambridge University, Inggris, yang belakang memilih menjadi pertapa, biarawan Buddha di Thailand.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s