Pelajaran dari Fenomena Jokowi

Gubernur Jakarta Joko Widodo

Gubernur Jakarta Joko Widodo

Jajak pendapat yang dilakukan Lembaga Survai Nasional menunjukkan Prabowo Subianto kandidat presiden terkuat, mengalahkan Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, dan Wiranto.

Prabowo hampir pasti presiden…. Jika Jokowi tak maju.

Prabowo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, menangguk suara 22,7% dalam survai acak yang dilakukan secara nasional itu. Bakrie di tempat kedua (16,3%) dan Wiranto di tempat ketiga (13,2%).

Megawati hanya sedikit di bawah Wiranto (13%), sementara calon-calon lain mendapat suara di bawah 6%: Surya Paloh, Hatta Rajasa dan Yusril Ihya Mahendra.

Joko Widodo, Gubenur Jakarta, tidak diperhitungkan sebagai calon mengingat dia bukan pemimpin partai. Tapi, dalam kuesener terpisah, Jokowi jauh mengungguli Megawati sebagai kandidat presiden dari PDI Perjuangan. Popularitas Jokowi 68,1%, sementara Megawati hanya 14,9%.

Jokowi sendiri sejauh ini mengatakan takkan maju sebagai calon presiden dan akan berkonsentrasi sebagai gubernur Jakarta.

Namun, desakan agar dia maju nampaknya makin hari makin kuat. Di tengah gambaran prospek Prabowo sebagai presiden, Jokowi akan ditekan habis-habisan oleh partai-partai dan pressure groups anti-Prabowo. Hanya dia yang kemungkinan besar bisa mengalahkan Prabowo.

Bahkan jika Megawati tak merestui, banyak orang nampaknya sudah menyiapkan perahu-perahu baru tanpa PDI Perjuangan. Skenario berikut ini juga tak bisa diabaikan sama sekali: Prabowo menggandeng Jokowi. Itu bukan tanpa preseden: Jokowi menjadi Gubernur Jakarta berkat koalisi Gerindra dan PDI Perjuangan.

Banyak orang nampaknya akan pragmatis merelakan Jokowi melanggar prinsip-prinsipnya dan membuat tradisi buruk dalam politik: jadi walikota Solo belum selesai sudah maju calon gubernur, dan kini jadi gubernur belum selesai sudah mau jadi calon presiden.

Tapi, dilema Jokowi sebenarnya adalah dilema kita semua: terlalu sedikit orang yang punya rekam-jejak bagus dan bisa dipercaya menjadi presiden Indonesia. Dan begitu desperate kita merindukan pemimpin seperti itu.

Kita belum tahu real-politik seperti apa, pergulatan dan kompromi seperti apa, yang akan mewarnai Pemilihan Presiden 2014.

Tapi, buat kita barangkali, pelajaran terpenting bukanlah Jokowi jadi presiden atau tidak. Melainkan: bisakah kita mempromosikan sistem yang memungkinkan ada banyak Jokowi bermunculan, sehingga kita tak tersandera oleh satu tokoh?

Otonomi Daerah, yang sering dikritik memunculkan “raja-raja kecil”, ternyata memiliki sisi positif juga: potensi menumbuhkan pejabat publik dari jenis yang lain, yang berpikir “out of the box” dan membawa angin segar.

Baik Jokowi maupun Basuki (Ahok) berangkat dari reputasi yang dibangun di tingkat kabupaten. Mereka dikenal sebagai pejabat yang melayani. Mereka naik melalui proses berjenjang, bukan jalan pintas langsung ke tingkat nasional hanya karena populer sebagai artis atau menteri, misalnya.

Jokowi juga membuktikan bahwa menjadi pejabat publik yang disukai tak harus tampan dan gagah (Photo dan TV-genics), atau sangat pintar, atau berwibawa/menakutkan ala tentara.

Dalam kasus Jokowi, sangat menggembirakan melihat bagaimana publik ternyata bisa membedakan antara substansi dengan citra.

Banyak politisi ingin kelihatan merakyat dan melayani rakyat (terutama di musim pemilu). Namun, hanya Jokowi yang bisa nampak tulus melakukannya. Melayani, baginya bukan sekadar citra, tapi mengendap dalam kesadaran yang dihayati.

Jika kita bisa memperbaiki kualitas pemilihan daerah, membangun kesadaran publik tentang nilai-nilai ideal bupati/gubernur, mungkin di masa depan kita tidak lagi kekurangan lagi orang-orang seperti Jokowi untuk dipilih.

Tak semestinya negeri ini menyandarkan diri pada orang per orang, betapapun baik dan hebatnya. Itu bisa membuat kita tergelincir pada kediktatoran. ***

Advertisements

4 thoughts on “Pelajaran dari Fenomena Jokowi

  1. Sangat setuju pak dan saya yakin masih ada jokowi jokowi laon direpublik ini. Tapi sistem tidak memberi kesempatan bagi mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s